
Fanfare bagi Frieren
1
Lima tahun setelah wafatnya Sang Pahlawan Himmel.
Daratan Tengah, Wilayah Capelle.
Suatu kota kecil, yang dijuluki "Kota Musik", terletak tidak jauh di sebelah barat Ibu Kota Kerajaan.
Banyak musisi terkenal, yang telah mendirikan fondasi pada musik bangsawan, pergi ke sana untuk belajar, dan masing-masing dari mereka membentuk orkestra yang terus berlanjut hingga hari ini. Siang dan malam, pertunjukan orkestra dan opera memenuhi teater, dan pertunjukan tersebut cukup terkenal di seluruh Daratan Tengah.
Lantunan himne yang terdengar dari gereja juga membangkitkan ikatan harmonis antara budaya dan agama. Nyanyian dan pertunjukannya, yang tenang sekaligus kuat, sangat memanjakan telinga.
Ada sihir yang tak terduga di tempat-tempat seperti ini, ya, pikir Frieren sambil berjalan menyusuri jalanan dengan langkah ringan.
Dia belum sempat mengunjungi tempat ini selama perjalanannya mengalahkan Raja Iblis, tapi dia pikir akan menyenangkan jika perjalanannya tersebut melalui jalan yang berbeda. Perjalanan itu dimulai dari Ibu Kota Kerajaan hingga ke daerah timur, kenangnya dengan sedikit penyesalan.
Selain itu, kota tersebut merupakan tempat yang indah dan terpencil.
Jalanan yang tersusun atas batu kobel mengingatkannya pada partitur musik yang padu, sementara rumah radialnya mengingatkannya pada orkestra yang terorganisir dengan baik. Keseluruhan kota memiliki atmosfer untuk menyambut orang-orang, seolah-olah di sana ada musik untuk didengarkan.
Mungkin ada banyak sihir yang berkaitan dengan musik di tempat ini. Dia tidak terlalu paham mengenai musik, tetapi sihir lokal yang berakar pada budaya tertentu sudah cukup sebagai alasan untuk dikoleksi.
Mengikuti papan penanda yang berbentuk seperti simbol partitur dan instrumen musikal, Frieren terus berjalan.
Di dekatnya terdapat gedung opera dan museum yang terletak berdampingan, serta suara harmoni yang datang dari berbagai tempat.
Berbagai suara silih bergantian di seluruh kota, tetapi anehnya, tidak ada yang bertabrakan sama sekali.
Tiba-tiba, di antara suara-suara itu, terdapat suatu suara yang menarik perhatiannya. Nada suaranya terdengar seperti seseorang yang sedang berjalan di atas es secara hati-hati.
Tampaknya, sekelompok drumben kecil sedang lewat di depan gereja yang terletak di pusat kota. Anak laki-laki dan perempuan, sedang bersiap untuk latihan pada hari itu, membawa instrumen logam yang terlalu besar bagi ukuran tubuh mereka dan instrumen perkusi yang terlalu banyak untuk ditangani.
Anak laki-laki yang mengenakan topi militer dengan bulu merah—atau lebih tepatnya, dipaksa memakainya—ekspresinya terlihat seperti sudah menyerah selagi dia terus meniup trompetnya, tidak peduli dengan wajahnya yang memerah.
Meskipun begitu, semua orang di kota ini telah hidup bersama dengan musik sejak usia yang sangat muda.
Suara yang dihasilkan anak laki-laki itu sambil memegang trompet dengan hati-hati, yang dikatakan merupakan instrumen tersulit bagi manusia, bukanlah yang terbaik.
Namun, suatu saat nanti, suara itu akan bergema dengan gagah dan lembut.
Frieren merasa itu adalah nada yang cocok untuk kota tersebut.
Frieren melanjutkan langkahnya, seolah-olah orkestra kecil itu sedang mendorong punggungnya.
Desiran daun, gemericik air mancur, suara bahagia dari kafetaria. Suara dari alam dan kegiatan sehari-hari di berbagai tempat memberikan kesan bahwa semuanya terdengar merdu.
Bisa dikatakan, dia dapat tinggal di sini selama bertahun-tahun sambil menjelajahi keseluruhan kota.
Di salah satu sudut kota, berdiri sebuah toko musik yang tampak tua. Penampilan toko itu, yang mencerminkan umurnya yang panjang, membuatnya menonjol.
Untuk suatu alasan, dia memasuki toko tersebut. Tempat itu biasanya tidak akan dia kunjungi, tetapi ada hal aneh yang menarik kakinya untuk masuk ke dalamnya.
Di balik pintu toko yang berderit, bagaimanapun juga, terselimuti dengan suasana yang sangat berbeda tetapi terasa tenang.
Instrumen tiup yang dipoles dengan indah. Instrumen senar tanpa ada setitikpun debu. Instrumen tersebut ditempatkan di ruang yang sempit, berderet seperti pembuluh darah kapiler. Penampilan toko itu memberi kesan seakan-akan orang dapat mendengar suara napas pengrajin tua yang menjalankan toko itu sendirian.
Saat dia menelusuri pijakan yang sempit dan hendak menuju lebih dalam.
"Kau." Terdengar suatu suara. Frieren merasa kalau itu adalah suara berat yang berasal dari seseorang yang sudah sangat tua.
Seorang pria tua, dengan rambut putihnya yang terikat, muncul dari bagian belakang toko. Lengan bajunya masih tergulung, seolah-olah dia baru saja membersihkan instrumennya beberapa saat yang lalu. Dia melihat sekilas otot pria tua itu, yang cukup terbentuk pada usianya.
"Kau... sepertinya menjalani kehidupan yang tidak terhubung dengan instrumen musik."
Menyesuaikan monokelnya, pria tua itu menatap tajam ke arah Frieren.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Karena aku belum pernah melihat wajahmu. Bagi yang mencintai musik dan yang dicintai oleh musik, mereka akan mengunjungi tempat ini cepat atau lambat."
Pria tua itu mengatakan hal tersebut dengan sangat yakin.
"Mereka yang mencintai musik akan segera terobsesi dengan instrumen di sini. Mereka yang dicintai oleh musik adalah seseorang yang segera dikenali oleh mataku. Jadi, ya, aku bisa tahu. Maukah kau membiarkanku melihat wajahmu?"
Kemudian pria tua itu memberi isyarat agar dia mendekat.
"Astaga, aku terkejut. Sepertinya kau adalah yang terakhir."
"Apa maksudmu?"
"Telingamu, tepi matamu, bentuk wajahmu. Kau tampak seperti seorang elf."
"Aku memang seorang elf, tapi..."
Frieren masih belum mengerti maksud pembicaraan tersebut.
"Aku memiliki sesuatu yang ingin kuberikan kepada orang-orang sepertimu."
Setelah mengatakan, "Tunggu sebentar," pria tua itu berbalik dan mengambil sebuah kotak kayu kecil dari bagian belakang toko lalu membukanya. Di dalamnya terdapat instrumen musik seukuran telapak tangan yang mirip okarina.
Kerumitan desain instrumen itu bahkan terlihat jelas bagi mata yang tidak terlatih.
"Ini adalah Möglich."
"Möglich?"
"Nama lainnya adalah 'Si Mustahil'. Instrumen ini rumornya perlu waktu seratus tahun untuk bisa menguasainya."
"Aku pernah dengar kalau trompet disebut juga sebagai instrumen tersulit bagi manusia.”
Balas Frieren, teringat anak laki-laki dari kelompok drumben tadi. Dia ingat kalau anak laki-laki itu kesulitan untuk memainkannya.
"Itu hanya untuk manusia biasa. Namun, instrumen ini sebenarnya dibuat oleh kaum elf. Kau sepertinya tidak menyadari hal ini."
"Benar. Aku tidak tahu. Meski tidak aneh juga jika ada elf yang menciptakan sesuatu seperti itu."
Frieren mengenal beberapa orang dari kaumnya yang menghabiskan waktu selama bertahun-tahun tanpa ada tujuan.
"Kakek buyutku menerima Möglich, dan menganalisis strukturnya. Sepertinya, cukup mustahil untuk menghasilkan suara dengan instrumen ini kecuali diberikan sedikit mana secara terus menerus sambil menjaga keseimbangan yang sempurna. Dibutuhkan lebih dari sepuluh tahun untuk menghasilkan suara yang tepat pada instrumen ini. Lima puluh tahun bahkan tidak akan cukup bagi seorang penyihir berpengalaman hanya untuk memainkan satu nadanya."
"Benarkah?" jawab Frieren samar, tanpa ada kejelasan apakah dia tertarik atau tidak.
"Kudengar jika mempelajarinya dengan tekun selama lebih dari seratus tahun, suara yang dihasilkan dari instrumen ini tidak tertandingi."
Sebenarnya, penjaga toko tua itu menghabiskan sepanjang hidupnya hanya untuk mencoba menguasainya. Namun, mustahil baginya untuk menguasai instrumen itu karena dia tidak memiliki kekuatan sihir. Dia bahkan tidak bisa membuat instrument tersebut mengeluarkan suara.
"Belum ada orang yang menguasainya, apalagi tahu cara memainkannya, jadi instrumen ini masih dijual, menunggu seorang pembeli."
Instrumen itu memiliki label harga yang mencengangkan. Jumlah yang cukup untuk membeli sebuah rumah, dan tidak mungkin Frieren mampu membelinya, setidaknya dengan biaya perjalanan yang dia miliki.
Tentu saja, Frieren juga tidak berniat membelinya.
Sebenarnya, kenyataan bahwa ada sesama elf yang menghabiskan sebagian dari umur panjang mereka untuk pengembangan instrumen musik ini agak menarik perhatiannya. Elf macam apa dia? Kenapa dia memberikannya kepada manusia?
Kemungkinan besar, dia merasa kalau ini mungkin tidak lebih dari sekadar lelucon. Lagipula, itu adalah instrumen dengan suara yang tidak dapat dihasilkan dalam kehidupan manusia yang sangat singkat dan cepat berlalu.
"Aku di sini karena aku ingin mendengar melodi dari Möglich suatu hari nanti. Aku telah lama mencari nada yang tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Selama bertahun-tahun, sepanjang waktu ini. Aku sangat menantikan siapa pun yang mencintai musik atau dicintai oleh musik untuk datang ke sini dan akhirnya memenuhi keinginanku. Mungkin ini mimpi yang mustahil sekarang, tapi aku merasa bimbingan Dewi sedang bekerja sehingga aku bisa bertemu denganmu, seorang elf."
"Maaf, tapi..."
"Aku tidak butuh uangmu."
"Bagaimanapun, aku juga tidak bisa membayarnya."
"Aku ingin elf sepertimu untuk memilikinya," kata penjaga toko tua itu dengan nada kuat.
Matanya tidak menunjukkan keangkuhan seolah dia sedang memaksakan mimpinya yang mustahil kepada orang lain, melainkan dipenuhi dengan harapan yang murni.
"........."
Setelah ragu-ragu sejenak, Frieren menjawab.
"Jika tidak ada pembeli lain, aku akan memikirkannya. Namun, ini harus dibeli oleh seseorang yang memang seharusnya memilikinya."
"Begitu ya... Kembalilah. Aku yakin kau akan kembali."
"Aku akan kembali. Aku berencana tinggal di sini untuk sementara waktu."
Pria tua itu, seolah-olah ingin mengingatkan dirinya sendiri, memanggil Frieren saat dia hendak pergi.
"Siapa namamu?"
"Frieren."
"Nama yang bagus. Nama yang dicintai oleh musik."
2
Senja mulai membayangi kota saat dia meninggalkan toko music tersebut.
Frieren merasakan bagaimana perubahan nada kota di antara siang dan malam.
Berbeda dengan siang yang ramai dan malam yang tenang, sore yang nyaman terasa seperti angin lembut yang mengenai pipinya.
Waktunya makan malam, pikir Frieren.
Di dalam perjalanannya bersama Himmel dan kelompoknya, Himmel selalu memutuskan di mana tempat mereka makan. Dia memiliki kemampuan luar biasa untuk menemukan restoran yang menyajikan apa yang diinginkan Frieren dan yang lainnya tanpa perlu mereka katakan.
Bagaimana kau bisa tahu? Tanyanya saat di meja makan.
"Kalian semua menunjukkan apa yang kalian pikirkan di wajah kalian."
Himmel tersenyum saat mengatakannya.
"Wajah Heiter sekarang sudah sangat pucat."
Eisen melirik pemabuk di sebelahnya.
"Apa?!"
Heiter menoleh ke arah Frieren, wajahnya tampak seperti mayat hidup. Dia sangat mabuk hingga dia tidak bisa membedakan antara Eisen dan Frieren.
"Kau bau alkohol."
Frieren menendangnya sementara Himmel tertawa.
"Frieren, kau tahu, aku sangat menikmati suasana makan bersama seperti ini. Aku memilih makanan yang disukai setiap orang karena aku ingin memastikan kita semua bersenang-senang."
Dia ingat pernah bertanya-tanya apakah itu adalah jawaban untuk pertanyaannya.
Dia kemudian melihat restoran yang sekarang ada di depannya dan berpikir restoran itu memiliki penampilan dan suasana yang sama dengan restoran dari waktu itu.
Restoran ini, yang disebut Parlante, adalah tempat yang tenang seakan terasa seperti bukan kali pertama dia memasukinya.
"Apa yang disukai Himmel?"
Teringat kembali, Himmel selalu memesan makanannya terakhir. Sering kali itu adalah hidangan yang berbeda dari milik mereka, atau dia akan memilih hidangan yang mudah untuk dibagikan bersama.
Setelah itu, dia akan memisahkan makanannya sedikit demi sedikit, membagikannya, dan berkata, "Bukankah lebih menyenangkan kalau ada berbagai macam hidangan sekaligus?"
Seingatnya, mereka telah makan bersama di berbagai tempat. Mereka menikmati makanan laut saat berada di kota-kota pesisir, mereka makan sayuran liar dan hasil buruan saat berkemah, dan mereka sangat menyukai makanan khas di setiap daerah.
"Makanan yang hanya bisa dimakan di suatu tempat menjadi kenangan bersama dengan orang-orang yang pergi bersamamu. Bahkan jika kau lupa, kau akan ingat lagi saat kau pergi ke sana dan memakan makanan khasnya. Begitulah caraku ingin bepergian."
Frieren ingat mereka pernah membicarakan hal ini, kemudian dia memanggil pelayan.
"Apakah ada hidangan yang hanya bisa dimakan di restoran ini?"
Akankah Himmel terkejut mengetahui Frieren sudah mulai berpikir seperti itu? Atau apakah dia akan tertawa dan berkata, "Itu tertulis di wajahmu," seolah-olah dia sudah menebak ini akan terjadi?
Pelayan itu membalik halaman menu dengan hati-hati.
"Hidangan spesial kami adalah l'oeuf omelette, terbuat dari sepuluh telur ayam. Hidangan ini disajikan untuk empat orang, haruskah saya bawa seperempat porsi?"
"Tidak, aku akan memesannya satu porsi. Jika aku tidak bisa menghabiskannya, aku akan membungkus sisanya."
Hidangan ini, yang disukai oleh musisi ternama, lebih banyak dari yang diperkirakan dan cukup memakan tempat di meja.
Sore untuk satu orang itu pun berlanjut, saat dia mengenang keramaian di meja makan yang pernah dia bagi dengan orang lain.
3
Sudah sebulan sejak dia tinggal di sini, tetapi dia begitu terpikat dengan toko peralatan sihir dan pemandangan kotanya, sehingga dia belum sepenuhnya menjelajahi kota kecil itu.
Setiap kali dia melewati toko musik itu, penjaga toko tua itu dengan antusias akan memanggil nama Frieren.
Hal itu sudah menjadi rutinitas bagi mereka berdua untuk saling bertukar sapaan ringan.
Itu bukanlah hal yang mengganggu bagi Frieren, tetapi entah bagaimana, dia merasa ingin pergi ke tempat yang sedikit berbeda hari ini.
Tidak jauh dari pusat kota, ada jalan yang dipenuhi dengan monumen para musisi. Ada beberapa yang dikenali, tetapi ada juga yang lain tidak dikenal oleh Frieren.
Di ujung barisan monumen tersebut, dia menemukan patung yang agak tidak biasa.
Itu adalah patung setengah badan Himmel yang sedang memegang biola. Itu mungkin dipesan pada saat dia bepergian sendiri ke negara-negara tetangga setelah kekalahan Raja Iblis.
"Dia pernah ke sini juga..." gumam Frieren tanpa sadar.
Matanya tertutup, tetapi ekspresi wajahnya pada sandaran dagu biola menunjukkan tekad yang kuat. Ini pasti karya pengrajin yang terampil. Seseorang bisa tahu seberapa banyak waktu yang dihabiskan untuk membuat patung itu. Hasil akhirnya memang unik, bahkan di antara lebih dari seratus jenis patung pahlawan.
"Jadi, dia bisa memainkan instrumen musik seperti itu."
Dia menggumamkan perkataan itu dengan pelan, tidak ingin orang lain mendengarnya, tetapi dari belakangnya terdengar tanggapan yang tidak terduga.
"Persis seperti yang dikatakan Tuan Himmel."
Ketika Frieren berbalik, dia melihat seorang wanita tua. Ada celah yang cukup jauh antara suara wanita itu, yang terdengar cukup muda, dengan penampilan wanita itu yang sudah tua. Wanita itu melanjutkan perkataannya dengan suara yang jelas.
"Mungkinkah Anda adalah Nona Frieren?"
"......?"
Selama beberapa saat, Frieren tidak bisa memahami perkataan yang ditujukan kepadanya.
"Apa maksudmu?"
"Tuan Himmel mengatakannya saat dia datang ke sini sebelumnya."
Wanita tua itu, dengan keahlian olah vokalnya, mengulang peristiwa yang terjadi antara dirinya dan Himmel.
"Suatu hari nanti di masa mendatang, seorang penyihir bernama Frieren akan mengunjungi kota ini. Aku ingin membuat patung yang akan berfungsi sebagai penanda unik baginya."
"Penanda? Bukankah semua orang justru akan berhenti di depan Tuan Himmel saja?"
"Aku yakin akan begitu. Tapi aku juga yakin mereka akan segera mengenalinya saat dia menatapku."
"Begitukah?"
"Ya, pasti begitu."
Wanita tua itu berdeham sekali, mengakhiri pertunjukan kecilnya. Frieren merasa itu aneh, mengingat wanita itu sangat pandai meniru suara. Dia kemudian diberitahu kalau wanita itu adalah mantan bintang pertunjukan di rombongan sirkus. Tidak heran jika suara wanita itu terdengar sangat kuat.
"Maaf atas perkenalan yang terlambat ini. Nama saya Flöte. Saya terlalu bersemangat bertemu dengan Anda, Nona Frieren. Ini memalukan..."
Pipinya memerah, berubah total dari beberapa saat sebelumnya saat dia masih menirukan beberapa nada suara yang berbeda.
"Aku menyaksikan pertunjukan yang bagus."
"Saya senang mendengarnya,"
Flöte tersenyum seperti bunga yang sedang mekar.
"Sepertinya patung itu layak untuk dibuat."
"Tuan Himmel menyesali patung itu tidak cukup untuk menyampaikan pesonanya kepada publik."
"Himmel mungkin akan mengatakan hal itu."
Frieren kemudian membersihkan karat dari rambut patung perunggu yang menjuntai itu dengan kain yang dibawanya.
"Andai saja ada 'sihir yang menghilangkan karat dari patung perunggu', pembersihan ini akan lebih mudah."
"Biarkan saya membantu Anda."
"Tidak apa-apa. Aku bisa melakukannya sendiri. Jadi, kenapa Himmel mengatakan itu?"
Saat semua karat telah dibersihkan dan senyum patung itu kembali, wanita tua itu menjawab Frieren dengan tatapan misterius di wajahnya.
"Saya punya permintaan untuk Anda, Nona Frieren."
Dia mengatakannya dengan nada meminta maaf sehingga Frieren menunjukkan ekspresi gelisah.
"...Apa imbalannya?"
"Sebuah grimoire dengan 'sihir untuk merekam suara di dalam buku'."
Pada titik itu, Frieren tersenyum lebar.
"Baiklah, aku setuju."
4
"Jadi, kau ingin membatalkan sihir yang tidak akan hilang sampai penggunanya meninggal?"
Tanya Frieren lagi, mengulangi kata-kata wanita tua itu.
"Itu agak sulit. Bahkan hampir mustahil."
"'Saya yakin Frieren akan melakukannya', itulah yang dikatakan Tuan Himmel kepadaku sebelumnya."
"Itu konyol."
"Saya juga malu untuk mengakuinya... Sayalah pengguna sihir yang dimaksud."
"Aku tidak mengerti situasinya. Apa maksudmu?"
"Kalau begitu, saya harus menceritakannya dari awal."
Saat wanita tua itu mengatakan hal tersebut, dia mulai menceritakan kisah pribadinya.
Flöte tidak lahir di wilayah Capelle, tetapi dalam keluarga penyihir, dan orang tuanya pindah ke daerah ini karena mereka membenci kengerian dari perang, dan di sana mereka mendirikan rombongan sirkus sihir. Dia awalnya tidak ingin bergabung dengan rombongan itu, tetapi karena didikan yang diterimanya, dia mampu menggunakan berbagai mantra sihir saat itu.
Salah satu mantra itu adalah 'sihir untuk menghapus satu ingatan sampai meninggal'. Itu bisa menjadi sihir yang mengerikan jika disalahgunakan oleh orang lain, tetapi mantra itu dibatasi sehingga hanya bisa digunakan pada diri sendiri.
Ada banyak rumor tentang keefektifannya, yang tidak pernah terbukti. Beberapa orang mengatakan kalau itu mengingatkan mereka pada saat kematian di mana seluruh kehidupan seseorang terlintas di depan mata, sementara yang lain mengatakan itu berarti seperti terkubur dalam kegelapan abadi.
Bagaimanapun, itu adalah jenis sihir yang misterius.
Suatu hari, ketika dia berusia 15 tahun, setelah menguasai mantra itu pada usia yang sangat muda, dia kemudian menggunakannya pada dirinya sendiri.
Sejak saat itu, Flöte telah kehilangan satu ingatan itu, bahkan sampai sekarang.
"Singkatnya, saya ingin membatalkan sihir penghilang ingatan yang kugunakan pada diri saya sendiri."
"Ingatan apa yang kau hapus?"
"Itulah masalahnya: saya tidak tahu. Lagipula saya sudah menghapusnya."
Dengan mata tertunduk, dia melanjutkan perkataannya.
"Namun, saya mulai bertanya-tanya apakah saya telah kehilangan sesuatu yang penting karena keinginan sesaat, terutama saat saya bertambah tua dan semakin dekat dengan kematian. Jika, karena dorongan perasaan, saya mengubur ingatan yang seharusnya tidak hilang itu dengan mantra sihir yang kupelajari, setidaknya, saya ingin mengingat hal itu sebelum meninggal. Maaf, Anda mungkin menganggap ini sebagai permintaan yang egois."
Wanita tua itu akhirnya berbicara dengan suara yang sesuai dengan usianya.
"Ketika Tuan Himmel berada di kota ini, saya mendapat kesempatan untuk memberitahunya tentang hal tersebut. Dia memberi tahuku tentang Anda, Nona Frieren. Kalau Nona Frieren pasti bisa melakukan sesuatu tentang itu."
Mengamati Frieren dengan cermat, wanita tua itu kemudian memohon kepadanya.
"Tolong, maukah Anda mengabulkan permintaan ini? Saya ingin menghabiskan sedikit waktu yang tersisa, yang akan berlalu dalam sekejap mata, tanpa penyesalan."
Wanita tua itu berbicara dengan jelas, tetapi Frieren tidak menjawab, tampak tenggelam dalam pikirannya.
Dia berjalan menyusuri kota setelahnya, membiarkan waktu berlalu, dan ketika malam tiba, dia memesan sebuah kamar di suatu kedai.
Larut malam, ketika kedai yang tadinya penuh dengan musik yang ceria akhirnya menjadi sunyi, peristiwa hari itu terlintas di pikiran Frieren saat dia membolak-balik halaman grimoire-nya.
5
"Perjalanan ini pasti terasa seperti sekejap mata bagimu," kata Himmel.
Perkataan itu muncul begitu alami seperti sedang memilih sayuran di pasar.
"Aku hampir tewas berkali-kali, tapi setelah aku sampai di sini, semuanya terasa sangat nostalgia."
Setelah kekalahan Raja Iblis, Himmel melanjutkan perjalanannya saat dia menaiki pedati yang berguncang untuk kembali ke Ibu Kota Kerajaan.
"Frieren. Aku tahu kau tidak menganggap ini sebagai kenangan, tapi harinya akan tiba ketika kau mengingat perjalanan ini, kita, dan momen ini. Aku tidak tahu kapan itu akan terjadi. Mungkin setelah aku meninggal. Meski begitu, aku yakin kau akan bisa tertawa dan berkata, 'Itu adalah perjalanan yang konyol, bukan?'"
"Terlalu dini untuk pembicaraan yang serius! Kita belum benar-benar mengalahkan Raja Iblis sampai kita pulang ke rumah!"
Heiter terus menggoda mereka sambil tersenyum.
"Yah, kita masih punya beberapa permintaan untuk diselesaikan."
Sekembalinya ke Ibu Kota Kerajaan, Himmel menerima banyak permintaan. Dia mengerjakan tugas-tugas kecil untuk membantu orang, memperbaiki jalan, bahkan mencari barang hilang.
Permintaan terakhir mereka saat itu datang dari pengurus pemakaman desa, yang meminta mereka untuk membasmi monster yang hanya bereaksi terhadap mayat manusia.
Ketika ditanya lebih detail, pengurus pemakaman itu mengatakan ada seekor naga yang menghalangi satu-satunya jembatan yang menghubungkan desa dengan kota. Karena naga yang merusak daerah itu hanya datang ketika ada mayat yang dibawa pergi, bisa disimpulkan kalau naga itu cenderung hanya menargetkan mayat.
Naga itu tidak merespons orang-orangan sawah, dan pura-pura mati juga tidak bekerja. Karena naga tersebut hanya tertarik dengan mayat manusia sungguhan, Frieren menebak kalau naga itu mungkin memiliki mata yang bisa mendeteksi apakah seseorang masih hidup atau tidak.
"Aku akan jadi umpan."
Himmel mengatakannya dengan tegas, seperti biasanya.
"Kau baru saja mengalahkan Raja Iblis, dan kau ingin mati di sini?" kata Eisen. "Berhenti bersikap ceroboh!"
"Bahkan Eisen, yang tidak mati meski dimakan monster, tidak berguna kali ini, ya."
"Heiter, diamlah."
Frieren melihat ke arah mereka berdua yang saling mengejek lalu bertanya.
"Apa kita tidak bisa meminjam mayat saja?"
"Kita tidak bisa melakukan itu, Frieren."
Himmel melanjutkan, seolah ingin menegurnya.
"Orang yang sudah meninggal adalah gambaran dari kehidupan yang sudah dijalani sepenuhnya. Kita tidak bisa menempatkannya dalam bahaya dengan gegabah. Lagipula, meskipun aku akan menjadi umpan, aku tidak akan benar-benar mati. Frieren, kau bisa menempatkanku dalam kondisi mati suri, kan?"
"Kondisi mati suri?"
Dia pernah menggunakan 'sihir untuk mengurung makhluk hidup dalam es' pada seekor ikan raksasa yang ganas. Himmel pasti mengingat kejadian itu saat dia mengatakan hal tersebut.
"Kau yakin? Jika aku membuat sedikit kesalahan saja, kau akan benar-benar mati."
"Kau bisa melakukannya, kan?"
"Aku tidak tahu."
Frieren mengangkat bahunya dan...
"Lakukan saja kali ini. Lagipula kau mampu melakukannya."
"Lakukan saja!"
Heiter dan Eisen bersorak gembira.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi."
Himmel berdiri di atas jembatan saat Frieren mengeluarkan tongkat sihirnya.
"Frieren. Serang aku."
Kilatan mana terkonsentrasi di ujung tongkat lalu menyelimuti Himmel. Udara di sekitarnya membeku, dan Himmel terjatuh dengan tenang.
Tak lama kemudian, bayangan yang sangat besar muncul di jembatan itu. Seekor naga terlihat. Saat dia berputar di atas langit, dia langsung menuju Himmel, seolah-olah telah mengincarnya. Mata dan cakar tajamnya yang dikeluarkan kini terlihat lebih dekat.
Menghadapi itu, ayunan besar kapak dari pendekar Eisen meledak dengan hebat.
Suara berat dan tumpul bergema di seluruh area.
Asap putih dan udara dingin menyatu, lalu melayang pergi seolah-olah sedang meleleh. Orang-orang bisa melihat bahwa Eisen adalah orang terakhir yang berdiri.
Frieren segera menggunakan 'sihir untuk menghangatkan kulit' pada tubuh dingin Himmel.
Kembali mendapatkan napasnya, Himmel tersenyum pada Frieren dengan wajah yang memerah.
"Lihat? Sudah kukatakan; kau pasti bisa."
6
Frieren menutup grimoire-nya hingga bisa terdengar suatu bunyi.
"'Sihir untuk menghapus satu ingatan sampai meninggal', ya."
Keesokan harinya, saat matahari pagi terbit, kota perlahan mulai dipenuhi dengan suara.
Frieren terbangun di lantai yang keras jauh dari tempat tidurnya, dan dengan rambut acak-acakan, dia pergi ke rumah Flöte.
Itu untuk mempraktikkan suatu teori. Ini adalah tindakan yang ekstrem, tetapi menurut pemikiran Frieren cara ini akan berhasil.
"Nona Frieren, selamat pagi. Apakah Anda menemukan sesuatu?"
Suara wanita tua itu tampak segar.
"Kau harus meninggal."
"Hah?"
"Itulah sebabnya aku akan membuatmu dalam kondisi mati suri."
"......"
Wanita tua itu terlihat kebingungan, lalu terdiam. Namun, setelah beberapa saat, dia tampak seolah-olah telah membulatkan tekad.
"Silakan. Akan saya lakukan apa pun risikonya."
Segera setelah dia mendengar kata-kata itu, Frieren perlahan mengangkat tongkatnya.
"Berbaringlah di tempat tidur. Akan kumulai."
"Memang akan saya lakukan apa pun risikonya, tetapi apakah Anda tidak masalah dengan ini...?"
"Aku dulu pernah melakukannya sekali. Aku bisa melakukannya."
"Jika Nona Frieren berkata begitu, maka semuanya akan baik-baik saja. Silakan lakukan."
Sihir yang dilepaskan Frieren pada wanita tua itu menyelimuti tubuhnya, dan untuk sesaat tubuhnya menjadi kaku.
Namun segera setelah itu, tubuh wanita tua itu kembali bergerak, persis seperti cat pewarna yang mengalir saat dilarutkan dalam air. Dia kemudian menunjukkan ekspresi kekanak-kanakan, seperti dirinya saat masih seorang gadis muda.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Frieren tak lama kemudian. "Kau secara teknis telah meninggal sekali, jadi ingatanmu seharusnya sudah kembali."
"Hahaha... Saya sempat khawatir seperti anak kecil..."
Wanita tua itu tampaknya telah memulihkan ingatannya yang hilang.
Saat masih remaja, dia tidak ingin bergabung dengan rombongan sirkus sihir. Sebaliknya, dia sangat mendambakan suatu instrumen musik.
"Möglich, instrumen yang konon membutuhkan waktu seratus tahun untuk dikuasai..."
Dia sangat menginginkannya, tetapi itu terlalu mahal, dan dia tidak bisa menghabiskan seratus tahun untuk itu, jadi sebagai seorang anak, dia pikir dia bisa melupakan saja keberadaannya.
Jadi, dia menyegel ingatan itu sebagai gantinya. Dia menutup rapat keinginan yang tak tercapai itu dan mulai menjalani kenyataan.
"Saya senang bisa mengingatnya... Saya akan mencurahkan seluruh hidup bahkan jika butuh waktu bertahun-tahun sebelum saya mencapai mimpi itu, dan saya akan mulai belajar dari sekarang."
"Begitu ya. Kalau begitu, kau harus memiliki instrumen itu."
Karena Möglich adalah instrumen yang menggunakan kekuatan sihir untuk menghasilkan suara, sudah jelas, itu akan cocok dengan Flöte, yang merupakan seorang penyihir.
"Aku akan memberi tahu penjaga toko musik itu. Kalau ada pelanggan yang sudah lama menginginkannya."
"Oh, tidak. Apakah Anda benar-benar yakin?"
"Aku ingin seseorang yang lebih mencintai musik daripada aku untuk memilikinya."
"Terima kasih banyak. Nona Frieren, berterima kasih kepada Anda saja tidak akan cukup."
"Lagipula aku mendapatkan imbalan juga, jadi..."
"Ya, Anda benar." Wanita tua itu mengambil sebuah grimoire dari rak bukunya. "Ini adalah grimoire yang berisi 'sihir untuk merekam suara di dalam buku'. Saya malu untuk mengatakan kalau aya telah merekam berbagai macam suara di dalam buku ini..."
Flöte menundukkan pandangannya saat dia mengatakan ini, persis seperti saat dia dan Frieren pertama kali bertemu.
"Terdengar seperti hobi yang aneh, bukan? Karena sudah menjadi rutinitas bagi saya untuk bepergian ke berbagai tempat sebagai bagian dari rombongan sirkus sihir, saya memiliki banyak pertemuan yang hanya terjadi sekali seumur hidup, dan ingin mengabadikannya dalam suatu bentuk. Warga lokal dan suara dari alam amenjadi sumber dukungan bagi saya. Di antaranya adalah rekaman pertemuan saya dengan Tuan Himmel."
"Ini bukan hobi yang aneh. Himmel pasti akan mengatakan hal yang sama."
Frieren berkata dia akan mengembalikan grimoire itu setelah selesai membacanya, lalu pergi meninggalkan ruangan.
Pada hari yang sama, Frieren pergi ke Restoran Parlante, yang sekarang sudah menjadi tempat yang sangat akrab baginya, dan memesan omelet. Ketika dia pergi tidur dengan perut yang penuh, dia membuka grimoire yang diberikan wanita tua itu.
Seperti yang dikatakan Flöte, grimoire itu berisi suara dari berbagai zaman, tempat, jenis kelamin... beberapa di antaranya adalah suara dari alam, beberapa adalah kebisingan kehidupan sehari-hari.
"Kau... kau tampak tidak asing."
Apakah ini suara penjaga toko musik tua itu saat dia masih muda?
"Aku pesan sepuluh l'oeuf omelette!"
Dilanjutkan dengan suara musisi yang sangat terkenal.
"Kali ini, aku berpikir untuk membuat sekelompok drumben di kota ini."
"Suatu hari nanti di masa mendatang, seorang penyihir bernama Frieren akan mengunjungi kota ini. Aku ingin membuat patung yang akan berfungsi sebagai penanda unik baginya."
Dia mendengar suara Himmel saat membalik halamannya. Suaranya sedikit berbeda dari terakhir kali dia bertemu dengannya, tapi itu tetap suara Himmel yang dia ingat. Itu terasa nostalgia juga.
Dan dia sadar kalau peniruan suara Flöte sebelumnya agak berlebihan.
"Tolong berpose dengan cepat! Anda hanya memegang biola...!"
Ini mungkin teriakan lelah dari pengrajin yang membuat patung Himmel itu.
Sepertinya Flöte, saat masih muda, mengikuti minatnya dan merekam suara-suara ini dari berbagai tempat yang dia kunjungi, dan pertemuan-pertemuan kebetulan yang dia hargai. Frieren bisa membayangkan bagaimana penampilannya saat itu.
"........."
Mungkin bukan ide yang buruk untuk menelusuri kembali perjalanan itu bersama semuanya, pikirnya, sambil menatap ke arah timur menuju Ibu Kota Kerajaan.
Pada akhirnya, Frieren memutuskan untuk pergi setelah tinggal di kota itu selama sekitar tiga bulan.
Saat dia mengucapkan selamat tinggal kepada penjaga toko musik, dia dengan bersemangat berkata, "Flöte mencintai musik dan dicintai oleh musik." Dia mengatakan wanita tua itu menguasai cara menghasilkan suara pada Möglich dengan kecepatan yang luar biasa cepat, sesuatu yang biasanya memakan waktu sepuluh tahun.
Bagaimanapun, sudah sepantasnya bagi mereka yang seharusnya memilikinya untuk menyimpannya.
Saat dia mempersiapkan diri untuk pergi sambil memikirkan hal tersebut, sekelompok drumben lewat di depan kedai.
Anak laki-laki yang memainkan trompet telah tumbuh lebih tinggi dalam waktu singkat, dan topinya sekarang lebih pas untuknya. Jari-jarinya yang memegang trompet sekarang memiliki kapalan, dan tiupannya terdengar tidak seberat sebelumnya.
Suaranya gagah dan lembut, tetapi akhirnya menjadi butiran suara yang halus.
Fanfare perayaan yang terdengar seperti parade penghormatan bergema di belakang punggung Frieren saat dia meninggalkan kota.
(TAMAT)
0 Comments
Posting Komentar